SAKRAMEN KRISMA: SAKRAMEN PERUTUSAN


PENGANTAR

Sakramen Krisma atau Penguatan adalah satu dari tiga Sakramen inisiasi yang paling banyak mengalami perubahan baik di dalam ritusnya maupun maknanya.[i] Bahkan beberapa teolog menyatakan secara agak berlebihan keadaan yang menyangkut Sakramen ini dengan ungkapan “sebuah praktis yang sedang mencari teorinya.”[ii] Salah satu titik simpul yang menjadi perdebatan teologis dari zaman ke zaman adalah relasi antara Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma. Dari simpul inilah kemudian dapat ditelusuri jawaban atas pertanyaan apakah Sakramen Penguatan memang tepat disebut sebagai Sakramen Pendewasaan atau Sakramen Orang Dewasa (atau bahkan Sakramen bagi Para Prajurit Kristus)? Atau lebih tepat disebut sebagai Sakramen Perutusan? Artikel ini bermaksud membantu menerangi masalah ini dan memberi arah dengan pertama-tama memaparkan sejarah terpisahnya Sakramen Krisma dari Sakramen Baptis. Kemudian pertanyaan-pertanyaan di atas akan coba dijawab dengan menggunakan pemaparan sejarah dan sebuah teologi tentang Roh Kudus. Di akhir artikel adalah sebuah kesimpulan dalam bentuk rangkuman.

SEJARAH MUNCULNYA DUA UPACARA INISIASI

Dari Satu Upacara dalam Banyak Simbol…

Pada mulanya, menurut kesaksian Perjanjian Baru, inisiasi Kristen berlangsung serba sederhana. Bagian inti dari praktek inisiasi ini adalah upacara Pembaptisan. Kis. 8: 36-38 menggambarkan bagaimana proses inisiasi ini dijalankan: Pewartaan Injil dari dan mengenai Yesus Kristus ditanggapi dengan iman, disusul pengakuan iman (Yesus Kristus adalah Anak Allah), lalu segera orang dibaptis oleh orang lain dengan air. Dan dengan demikian, proses inisiasi selesai.[iii] Dalam perkembangannya, proses inisiasi yang sederhana ini dikembangkan oleh jemaat Kristen abad III. Saksi pertama dari perkembangan proses inisiasi ini adalah tulisan Hipolitus, Tradisi Apostolik (215), yang memberikan urutan upacara inisiasi sebagai berikut: penenggelaman dalam air baptis yang disertai dengan pengakuan iman akan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, kemudian pengurapan dengan minyak oleh seorang imam, pengucapan doa dengan penumpangan tangan oleh Uskup, dan pengurapan minyak oleh Uskup yang disertai dengan rumusan: Aku mengurapi engkau dengan minyak suci dalam nama Allah Bapa dan Yesus Kristus dan Roh Kudus.[iv] Dari kesaksian Hipolitus ini kita dapat melihat bahwa upacara inisiasi tidak lagi disimbolkan hanya oleh air baptis, tetapi juga oleh penumpangan tangan yang disertai dengan doa dan juga oleh pengurapan minyak. Intinya adalah bahwa mulai abad III, inti upacara Pembaptisan lebih diperinci lagi tidak saja dengan penggunaan air baptis tetapi dengan simbol-simbol lainnya. Kemajemukan simbol ini ingin mengungkapkan betapa kayanya makna pembaptisan. Selain Hipolitus, Bapa-bapa Gereja lainnya, seperti Tertulianus, Origines, Ambrosius, juga memberikan kesaksian yang sama, meski dengan urutan dan simbol yang agak sedikit berbeda. Kemajemukan aksi simbolis ini mereka sebut pembaptisan. Jadi tidak ada dua upacara, melainkan satu upacara yang dilaksanakan dengan memakai beragam simbol.[v]

…Menuju Dua Upacara dengan Simbolnya Masing-masing

Namun demikian, mulai abad IV, V, dan VI, muncul satu faktor penting yang mengubah proses inisiasi ini. Faktor ini adalah menyebarnya komunitas-komunitas Kristen dari perkotaan ke pedesaan (de-urbanisasi).[vi] Pada umumnya, komunitas-komunitas Kristen dibentuk di daerah perkotaan. Sejak Konstantinus menjadi Kaisar Roma, penganiayaan terhadap orang Kristen berhenti dan jumlah katekumen serta baptisan baru bertambah. Komunitas-komunitas Kristen pun bertumbuhan sampai ke pelosok pedesaan. Mulanya, orang-orang Kristen pedesaan harus pergi ke kota untuk mendapatkan pelayanan pastoral atau untuk mengikuti upacara-upacara liturgis, khususnya upacara inisiasi yang pelayanannya hanya dapat diberikan oleh Uskup. Dengan bertambahnya jumlah baptisan, seorang Uskup tidak mampu lagi menjalankan seluruh upacara inisiasi seorang diri. Oleh karena itu, sebagian upacara inisiasi, yaitu bagian penggunaan air baptis, diserahkan kepada ketua jemaah setempat (seorang imam, presbyteros)[vii]. Akan tetapi, untuk memperlihatkan bahwa orang yang dibaptis itu juga dimasukkan ke dalam kesatuan jemaat yang lebih luas (bukan saja komunitas Kristen di desa di mana ia dibaptis tetapi juga ke dalam komunitas keuskupan yang lebih besar seperti Milan atau Roma), maka bagian penumpangan tangan (dan pengurapan minyak) sesudah penggunaan air baptis dikhususkan untuk Uskup setempat yang berkunjung ke daerah-daerah terpencil untuk maksud itu.[viii] Maka ada jarak antara upacara inisiasi melalui pembaptisan yang dilakukan oleh imam dan upacara inisiasi melalui penumpangan tangan (dan pengurapan minyak) oleh Uskup. Pelan-pelan, apa yang sebenarnya merupakan kesatuan upacara dengan beragam simbol menjadi dua upacara dengan simbolnya masing-masing. Upacara yang dikhususkan untuk Uskup ini kemudian disebut entah sebagai consignatio (pemeteraian), entah confirmatio[ix] (peneguhan/penguatan), entah krisma (pengurapan). Dalam Gereja (Katolik Roma dan Ortodox) upacara Penguatan ini, bersama dengan Baptis, dan Ekaristi, membentuk Sakramen-sakramen inisiasi. Dalam prakteknya, ketika baptisan anak semakin bertambah, urutan upacara inisiasi yang semula adalah Baptis, Krisma, dan Ekaristi, berubah menjadi Baptis, Ekaristi, dan Krisma. Ketika lahir, seorang anak segera dibaptis. Kemudian ketika sesudah cukup umur untuk membeda-bedakan (sekitar 7 tahun), seorang anak boleh menyambut Ekaristi Kudus. Sakramen Krisma baru diterima ketika seseorang dianggap cukup dewasa. Itulah sebabnya mengapa Sakramen Krisma kerap disebut juga sebagai Sakramen kedewasaan orang beriman.

SAKRAMEN PENDEWASAAN ATAU SAKRAMEN PERUTUSAN?

Dari paparan di atas dapat kita lihat bahwa sesungguhnya perayaan Sakramen Krisma tidak pernah dimaksudkan untuk dipisahkan dari perayaan Sakramen Baptis. Jika Sakramen Krisma tidak dapat lepas dari Sakramen Baptis, maka ungkapan Sakramen Pendewasaan yang muncul kemudian juga perlu dicermati secara kritis. Ungkapan itu lahir dari suatu pengandaian bahwa memang sejak awal mulanya Sakramen Krisma terpisah dari Sakramen Baptis. Inilah yang dipikirkan oleh para teolog abad XI dan XII seperti, misalnya, St. Thomas Aquinas yang menyatakan bahwa Sakramen Krisma memberi orang kekuatan untuk pertempuran rohani dan St. Bonaventura yang membayangkan orang yang menerima Sakramen Krisma sebagai seorang petarung di garis depan pertempuran.[x] Oleh karena itu, dari sudut pandang teologis pastoral, adalah lebih bermanfaat untuk mengalihkan perhatian dari ungkapan Sakramen Pendewasaan yang berkutat pada usia yang tepat untuk menerima Sakramen Krisma, kepada kehadiran Roh Kudus.[xi]

Roh Kudus bukanlah sebuah ide. Di satu sisi, Roh Kudus berarti kuasa dan kekuatan Allah sendiri yang menghidupkan (Kej. 2:7). Di sisi lain, Roh Kudus adalah Allah sendiri yang memberikan DiriNya, sebagaimana terungkap dalam pribadi Yesus dari Nazaret. Dalam seluruh hidupNya, Yesus menampakkan ketaatanNya secara total kepada kehendak Bapa di dalam tuntunan Roh Kudus. Apa yang dikehendaki Bapa, dikomunikasikan oleh Roh Kudus, dan dilaksanakan oleh Yesus. Oleh karena itu, setelah menjalani seluruh kehendak Bapa dan dibangkitkan dari kematian, Yesus pun menjadi pemberi Roh Kudus. Dia mampu memberikan Roh Kudus karena pertama-tama Dia tunduk secara penuh padaNya. Penerimaan Roh Kudus inilah yang dirayakan di dalam Sakramen Pembaptisan. Menerima Roh Kudus berarti mengalami kedekatan dengan Allah Bapa di dalam Allah Putra. Maka, Sakramen Baptis adalah pintu masuk ke dalam pengalaman kedekatan ini. Namun demikian, pengalaman ini tidak berhenti hanya pada moment pembaptisan. Hidup dekat dengan Allah terus berkembang, semakin luas dan semakin dalam, berkat kehadiran aktif Roh Kudus sendiri yang memberikan aneka karunia. Karunia-karunia ini adalah wujud partisipasi seseorang dalam kekuatan Allah. Dengan karunia-karunia ini, Allah sendiri mengambil kendali hidup seseorang dan mengarahkannya untuk mewujudkan karya keselamatanNya bagi Gereja dan dunia. Bagi orang yang bersangkutan, hidup adalah Kristus dan diarahkan pada kesatuan. Seluruh pengalaman inilah yang sebenarnya dirayakan dalam Sakramen Krisma. Maka Sakramen ini lebih tepat disebut sebagai Sakramen Perutusan dan bukan Sakramen Pendewasan, sebab fokus utamanya bukan lagi pada kematangan tetapi pada kehadiran Roh Kudus yang menghidupkan dan memampukan orang untuk semakin menjadi alat di tangan Tuhan, seperti Kristus sendiri.

KESIMPULAN

Pemahaman Sakramen Krisma sebagai Sakramen Orang Dewasa berangkat dari sebuah pengandaian bahwa Sakramen ini sejak semula berdiri sendiri dan terpisah dari Sakramen Baptis. Maka, penyebutan ini tidak tepat karena di satu sisi mengaburkan relasi Sakramen Krisma dengna Sakramen Baptis dan di sisi lain mengalihkan perhatian orang dari kehadiran Roh Kudus dengan memperdebatkan usia yang pas untuk menerimanya. Secara teologis, usia tidak membatasi karya Roh Kudus. Maka akan lebih berdaya guna jika perhatian tidak lagi diarahkan pada faktor usia, tetapi pada kehadiran Roh Kudus. Karena Roh Kudus ini adalah buah pertama yang diterima para Rasul dari Kristus yang Bangkit, yang kemudian mengutus mereka mewartakan Kabar Sukacita, maka lebih tepatlah jika Sakramen Krisma disebut sebagai Sakramen Perutusan.


[i] Gerard Austin, Confirmation, dalam Joseph A. Komonchak, Mary Collins, Dermot A. Lane (Eds), The New Dictionary of Theology, The Liturgical Press, Collegeville, Minnesota, 1987 , hlm. 221.

[ii] Gerard Austin, Confirmation, hlm. 226.

[iii] C. Groenen, Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen: Baptis dan Krisma, dalam Banawiratma (Ed), Baptis, Krisma, Ekaristi, Kanisius, Jogjakarta, 1989, hlm. 80.

[iv] Kenan B. Osborne, The Christian Sacrament of Initiation: Baptism, Confirmation, Eucharist, Paulist Press, New York, 1987, hlm. 120.

[v] Kenan B. Osborne, hlm. 125.

[vi] Kenan B. Osborne, hlm. 122. Osborne menyebutkan dua faktor lainnya, yaitu lebih maraknya baptisan bayi dan tahbisan ulang para heretics. Lihat hlm. 122-124.

[vii] Kenan B. Osborne, hlm. 122. Presbyteros, presbyter : yang dituakan, imam.

[viii] Peran Uskup sebagai simbol kesatuan Gereja sudah terungkap sejak akhir abad pertama, khususnya dalam tulisan St. Ignasius dari Antiokhia (+177).

[ix] Sebagai istilah teknis, kata confirmatio muncul pertama kalinya di dalam Konsili Riez (439) dan Orange (441). Kenan B. Osborne, hlm. 119.

[x] Kenan B. Osborne, hlm. 126. Antara abad VII dan VIII, di Gaul, Alcuin menyatakan bahwa penumpangan tangan oleh Uskup menyalurkan Roh Kudus yang memberi kekuatan yang memampukan orang untuk berkotbah. Penekanan pada salah satu rahmat Roh Kudus, yaitu kekuatan, menggantikan pemahaman semula tentang pencurahan Roh Kudus itu sendiri. Hal ini juga mengubah sikap Uskup yang memberikan Sakramen Krisma: semula Uskup memberikan ciuman damai kemudian menjadi tamparan pada pipi penerima sebagai simbol peperangan rohani. Lihat Gerard Austin, Confirmation, hlm. 223.

[xi] Kenan B. Osborne, hlm. 1128-137.

About these ads
Published in: on 17 April 2009 at 12:36 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: http://putrantotri.wordpress.com/2009/04/17/sakramen-krisma-sakramen-perutusan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: