Engkaulah Anak Yang Kukasihi

Pesta Pembaptisan Tuhan

Yes. 40:1-5.9-11

Titus 2:11-14; 3:4-7

Lukas 3:15-16.21-22

Siang itu, ada kehebohan besar di perusahaan. Penyebabnya adalah sang owner, pemilik perusahaan, dengan lengan tersingsing dan dahi berkucuran keringat, ikut sibuk membawa galonan minuman mineral ke dalam gedung kantor pusat. Seluruh jajaran karyawan, mulai dari dewan direksi yang terhormat sampai barisan satpam dibuat panik, kikuk, serba salah, mati gaya, istilah gaulnya. Apa yang harus mereka buat di hadapan orang nomor satu, yang biasanya mereka hormati, mereka sapa dengan penuh formalitas, mereka bukakan pintu ketika masuk, dan mereka sorongkan kursi ketika hendak duduk, singkat kata, mendapat pelayanan nomor satu, mendadak sontak berubah menjadi pesuruh dan pelayan di perusahaannya sendiri. “Jangan heran,” katanya menenangkan pikiran para karyawan, “ saya melakukan ini bukan untuk pamer kerendahan hati. Saya hanya ingin mengatakan: kalian semua, mulai dari office boy sampai dewan direksi yang terhormat, adalah bagian dari perusahaan ini. Masing-masing punya tugas berbeda, tetapi tidak mengurangi secuil pun kenyataan bahwa kerja kalian menentukan jatuh bangunnya perusahaan ini.” Sebuah tanda yang menyejukkan dan memberi inspirasi setiap karyawan untuk semakin tekun bekerja demi kepentingan bersama.

Kisah singkat di atas dapat menjadi ilustrasi bagi tindakan Yesus turun ke sungai Yordan dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Kenyataan bahwa Yesus dibaptis oleh seorang manusia sempat menimbulkan skandal bagi para murid. Masalahnya, pembaptisan Yohanes adalah pembaptisan demi pengampunan dosa. Apakah Tuhan Yesus punya dosa sehingga perlu dibaptis? Injil hari ini menjawab: bukan demikian. Yesus dibaptis bukan karena Dia berdosa, tetapi karena Dia taat pada kehendak BapaNya. Allah yang Yesus tampilkan melalui DiriNya , bukanlah Allah yang jauh dan tak tersentuh oleh lumpur kehidupan. Melalui Yesus, Allah mewahyukan Diri sebagai Dia yang dekat dengan kita, akrab, tak jijik dengan kita, para pendosa namun pada saat yang bersamaan membenci dan menghancurkan dosa itu sendiri. Dengan pembaptisanNya, Tuhan Yesus ingin menyatakan bahwa kita semua adalah bagian dari keluarga Kerajaan Allah. Di dalam Yesus, kita adalah putra-putri Allah Bapa. Maka seruan Allah Bapa: Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan (Luk. 3:22) juga ditujukan kepada kita masing-masing. Dia memerintah seperti tidak seperti raja yang duduk tinggi di singgasana, tetapi laksana seorang gembala yang memangku anak domba dan menuntun induk-induknya (Yes. 40:11). Mereka yang secara nyata mengalami keakraban dengan Yesus seperti ini, akan memilih untuk rajin berbuat baik, karena mereka adalah milikNya yang telah dikuduskanNya (Titus  2:14). Dengan keyakinan bahwa kita ini milik kesayangan Allah, bagian dari keilahianNya, berkat pembaptisan yang kita terima, kita didorong untuk hidup bijaksana, adil, dan beribadah di dalam dunia. Maka, hidup baik dan beribadah bukan pertama-tama sebuah keharusan moral yang wajib kita jalankan, tetapi pertama-tama sebuah anugerah yang kita syukuri karena bersumber pada persekutuan kita dengan Yesus yang memampukan kita menjadi orang kudus di dunia. Orang berubah bukan karena menaati hukum, orang berubah karena dia diterima dengan tulus dan penuh kasih. Inilah yang Allah lakukan. Engkau adalah anak yang Kukasihi. Itu yang Ia ucapkan ketika masing-masing dari kita menerima pembaptisan. Dengan menjadi salah satu dari kita, Yesus mengangkat kita menjadi bagian dari keilahianNya, ikut serta dalam persekutanNya dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Begitu agung rahmat pembaptisan yang kita terima, sampai kita ikut ambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal. Mari kita syukuri rahmat baptisan dan iman yang kita terima, dengan tekun berdoa dan berbuat kebajikan di dunia. Tuhan memberkati.

Published in: on 4 January 2010 at 4:20 am  Leave a Comment  

Perjalanan Para Majus

Dingin membekukan kami alami,

Waktu terburuk di tahun ini,

Untuk satu perjalanan,

Perjalanan panjang:

Waktu melamban, dingin mengiris,

Maut bersembunyi di dalamnya.

Dan unta-unta pun enggan beranjak,

Terluka di kaki, mengeras hati,

Terbaring di atas salju yang mencair.

Ada waktu-waktu yang kita sesali

Istana-istana musim panas yang landai, beranda,

Dan para gadis cantik keperakan membawa makanan

Kemudian para penjaga unta mengutuk dan mengeluh

Dan lari, mencari minuman dan perempuan

Lalu api penghangat malam padam,

Tempat berlindung pun semakin jarang,

Penduduk kota yang bermusuhan dan orang kampung yang tak ramah

Dusun-dusun yang kotor dan harga sewa yang tinggi:

Ini semua yang kami dapati.

Akhirnya, kami memilih berjalan sepanjang malam,

Tidur berimpitan,

Dengan suara yang bernyanyi di telinga kami, yang berkata:

Perjalanan ini kebodohan belaka.

Kemudian di fajar hari kami turun ke lembah yang lebih bersahabat,

Basah, di bawah garis salju, beraroma harum tetumbuhan,

Dengan suara gemericik arus air dan air sumur yang memukuli kegelapan,

Dan tiga pohon menjulang di kaki langit yang rendah,

Dan seekor kuda putih berderap di padang rumput,

Kemudian kami sampai di sebuah kedai

Dengan dedaunan anggur di muka pintu

Tiga pasang tangan di pintu yang terbuka

Menghitung kepingan perak

Sambil menendang botol anggur yang kosong.

Tapi tidak ada kabar, maka kami pun terus berjalan

Dan tiba pada suatu petang, setelah perjalanan yang melelahkan

Menemukan tempatNya: dan kami pun merasa puas.

Ini kisah masa lalu, yang membayang di ingatanku,

Dan seandainya mungkin, aku akan melakukannya lagi,

Tapi sebentar,

Semua ini: mengantar kami ke mana?

Kelahiran atau kematian? Di sana ada kelahiran, tentu saja,

Kami telah menyaksikannya dan tiada keraguan. Kutelah melihat

Kelahiran dan kematian,

Tetapi meski demikian, kelahiran di sana berbeda

Kelahiran yang keras dan pahit ini mendera kami, seperti kematian,

Kematian kami.

Kami pun kembali ke istana kami, kerajaan ini,

Tapi tidak lagi merasa nyaman di sini, dalam kenikmatan tua,

Dengan penduduk asing yang menyembah dewa mereka,

Dan saya lebih memilih

Kematian dalam kelahiranNya.

(terjemahan bebas dari puisi karya TS Elliot)

Published in: on 4 January 2010 at 4:12 am  Leave a Comment  

Tiga Majus

Tiga orang bijak

Seperti para gembala

Datang untuk menyembah Sang Pencipta

Mereka disebut ‘Bijaksana’

Bukan karena tahu jalan

Tetapi karena mengenal tujuan

Bukan karena menengadahkan kepala ke arah bintang

Tetapi karena bersimbuh di depan Sang Bayi di kandang binatang

Maka

Kebijaksanaan bukanlah kesombongan atas kayaknya pengetahuan

Tetapi kerendahan hati dalam kesucian

Awal kebijaksanaan adalah takut akan Tuhan” (Mzm. 110).

Published in: on 24 December 2009 at 2:12 am  Leave a Comment  

Rencana Agung dalam Kelemahan

24 Desember 2009

Bac. I: 2Samuel 7:15. 8b-12.16

Injil: Lks. 1:67-79

Setiap orang punya angan, harapan, rencana, yang dirancang demi kebaikan, entah untuk diri sendiri atau sesama. Di atas rencana dan angan ini orang menyusun batu-batu kegiatan hidupnya, satu demi satu sampai berdiri sebuah bangunan kehidupan yang utuh. Daud pun ingin membangun sebuah rumah bagi Allah. Pikiran dan kehendaknya diarahkan ke sana. Tetapi, melalui nabi Natan, Allah menyatakan kehendaknya yang lain. Rancangan hidup Daud diubah, menjadi jauh lebih agung: bukan sekedar bangunan fisik bagi Allah, yang tidak membutuhkan rumah apa pun sebab langit adalah ciptaaNya, tetapi sebuah bangunan rohani, yaitu seorang keturunan yang akan menjadi Penyelamat, Mesiah. Rumah, dalam tradisi Yahudi, bukan sekedar bangunan fisik, tetapi keluarga. Maka, rumah Daud, keluarga Daud, akan menjadi sarana untuk menghadirkan Sang Penyelamat, yang menghimpun seluruh umat manusia di bawah satu rumah, satu keluarga, yaitu keluarga Kerajaan Allah.

Rencana agung ini tersembunyi bagi mata fisik manusiawi, tetapi menjadi nyata bagi mereka yang oleh Allah dibukakan mata rohaninya. Sebab, karya seagung ini tersembunyi dalam apa yang di mata dunia dipandang lemah: seorang bayi. Bagaimana mungkin seorang nabi Yang Maha Tinggi sudah nampak dalam diri jabang bayi yang diberi nama Yohanes, sebagaimana kita dengarkan dalam Injil hari ini? Tetapi Zakharia, sang ayah, melihatnya dan karena itu bersukacita dengan menyanyikan kidung pujian. Dan, puncak sukacita seluruh ciptaan masih harus terjadi, ketika Sang Pencipta, berkenan mengenakan ciptaanNya untuk menampakkan DiriNya: menjadi seorang bayi yang lemah. Para raja, imam, ahli kitab, tidak melihatnya. Tetapi Yusuf, Maria, kawanan gembal, dan tiga orang bijak menemukanNya.

Insight:

Kita diundang untuk memiliki kebebasan batin atas rencana dan rancangan hidup kita agar tetap terbuka terhadap rancangan Allah untuk kita yang jauh lebih besar, yang kerap tersembunyi dalam hal-hal yang di mata dunia dianggap tak berarti.

Published in: on 24 December 2009 at 1:29 am  Leave a Comment  

The Smallness of God

Whom have we, Lord, like you
The Great One who became small, the Wakeful who slept,
The Pure One who was baptized, the Living One who died,
The King who abased himself to ensure honor for all.
Blessed is your honor!

St. Ephrem the Syrian

Published in: on 22 December 2009 at 5:17 pm  Leave a Comment  

Tanda Keheranan: Gaya Hidup Seorang Utusan Allah

23 Desember 2009

Bac. I: Maleakhi 3:1-4. 4:5-6

Injil: Lukas 1:57-66

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Maleakhi. Siapakah nabi Maleakhi ini? Kita tidak mengetahui nabi ini. Asal usul dan keluarganya tidak jelas. Namun, kita dapat mengenal situasi zaman ketika sang nabi menyerukan nubuat-nubuatnya. Kitab Maleakhi menggambarkan keadaan bangsa Israel sekitar lima puluh tahun sesudah penyelesaian Bait Allah (515 SM). Pada masa itu, kekacauan moral, agama, dan sosial melanda bangsa Israel. Para pemimpin sipil dan agama yang bertanggung jawab atas hidup masyarakat mengabaikan panggilan dan tugasnya. Penyebab kekacauan ini adalah orang tidak lagi takut akan Tuhan dan hidup seenak, baik jemaat maupun para imam.  Nubuat yang kita dengarkan pada hari ini merupakan seruan nabi bagi setiap hati yang putus asa karena harapan mereka akan campur tangan Tuhan di tengah carut marutnya kehidupan pribadi dan sosial seolah sirna. Di mana Tuhan? Nabi pun menjawab: Ia akan datang. kedatanganNya diawali dengan kehadiran seorang utusan: Lihat, Aku menyuruh utusanKu supaya ia memperisapkan jalan di hadapanKu! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke baitNya! (Mal. 3:1).  Utusan inilah yang menjadi tanda bahwa Allah sedang melawat umatNya. Siapa utusan ini?

Sang utusan ini adalah Yohanes Pembaptis yang kisah kelahirannya kita dengarkan di dalam Injil hari ini. Tangan Tuhan menyertai dia (Lk. 1:66). Penyertaan tangan Tuhan ini membuat orang heran akan pribadinya dan bertanya-tanya: menjadi apakah anak ini nanti?

Insight untuk kita:

Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya. KehadiranNya di tengah umat manusia nampak melalui orang-orang yang dipilih untuk menjadi utusanNya. Ciri utusan Tuhan adalah: kehidupannya membuat orang heran dan bertanya-tanya, karena gaya hidupnya yang di satu sisi menampilkan sesuatu yang berbeda dari yang ditawarkan dunia dan di sisi lain menjawab kerinduan yang ada di dalam hati setiap orang akan kebenaran, kedamaian, harapan. Inilah panggilan setiap orang yang dibaptis. Inilah panggilan kita. Apakah hidup kita menampilkan suatu gaya hidup yang berbeda dari yang ditawarkan dunia, hingga orang di sekitar kita pun bertanya-tanya?

Published in: on 22 December 2009 at 4:57 pm  Comments (1)  

Mengakui Kesalahan adalah Awal Kebangkitan

Renungan Harian: Rabu, 23 September 2009

Bac. I: Ezra 9:5-9

Injil: Luk. 9:1-6

Seorang lelaki, duduk sendirian, di antara ilalang dan siraman cahaya mentari musim semi. Sungguh seorang diri, jauh dari keramaian saudara sebangsanya, dari riuh rendah kesibukan pembangunan kembali puing-puing kota Yerusalem. Tidak ada yang dibuatnya, selain duduk, merenung, dan berduka. Menjelang petang, baru ia bergerak. Sambil berteriak, lelaki ini mengoyakkan pakaiannya, dan jatuh di atas kedua lututnya. Dengan wajah menghadap tanah, ia tersedu. Dari bibirnya yang kering terucap sebuah pengakuan: kami telah berdosa, ya, kami telah berdoa. Kesalahan kami telah menumpuk, melampaui kepala kami. Saat itu musim semi, tahun 459 sebelum Yesus Kristus. Ezra, begitu lelaki itu dipanggil. Ia baru saja tiba di reruntuhan Yerusalem, setelah diijinkan pulang membawa sekitar 5000 orang Israel, saudara sebangsanya. Raja Persia, Artahsasta tidak saja memberi ijin untuk pulang dan membangun kembali Bait Allah, tetapi juga memberinya barang-barang berharga emas perak untuk mengisi Bait Allah. Menarik benar sikap Ezra, sang Ahli Kitab Taurat. Jarang orang berani mengakui kesalahan dan dosanya sendiri, atau juga dosa bangsanya, sukunya. Biasanya, sehabis ditimpa malapetaka, orang akan menimpakan kesalahan pada orang lain, seperti ungkapan: semut di seberang samudera kelihatan tetapi gajah di pelupuk mata tak Nampak. Maka, kemampuan mengakui kesalahan, dan dosa adalah sebuah anugerah, sebuah awal untuk kehidupan yang baru. Demikianlah, gerakan yang dipimpin Ezra akan menjadi awal bagi Yudaisme, yang berpusat tidak lagi melulu pada kurban tetapi pada Taurat. Demikianlah, Ezra mengawali gerakan pembaruan rohani dalam tubuh bangsanya dengan pengakuan dosa. Sebab, hanya orang yang berani mengakui bahwa dirinya lemah, mampu meletakkan harapannya pada Allah. Sesuai namanya, Ezra, yang berarti Allah menolong. Para murid Yesus pun harus melalui ujian ini: mereka baru siap diutus setelah mengalami dan menyadari betapa sesungguhnya mereka rapuh. Petrus harus menangis setelah menyangkal Yesus tiga kali sebelum akhirnya Ia dipanggil untuk hanya mencintai Yesus dan menjadi gembala bagi sesama kawanan dombaNya. Rasul-rasul yang lain juga, harus mengalami betapa mereka, yang sudah disiapkan selama tiga tahun lebih, toh tetap ketakutan dan melarikan diri, justru sesudah perjamuan Ekaristi yang pertama pada kamis malam. Begitu juga Paulus, Barnabas, dan semua orang kudus, harus menyadari kerapuhan mereka sebelum diutus mewartakan kabar sukacita. Allah Bapa kami, jadikan kami putra-putriMu yang cepat mengakui kelemahan kami secara tulus, dan lambat dalam menghakimi kesalahan sesama kami, mulai hari ini.

Published in: on 22 September 2009 at 3:52 pm  Leave a Comment  

Melihat Karya Allah dalam Sejarah

Renungan Harian: Selasa 21-09-2009

Bac. I: Ezra 6:7-8. 12b. 14-20

Injil: Luk. 8:19-21

Pada tahun 538 SM, Koresh, raja Persia, mengijinkan orang-orang Yahudi kembali ke tanah asalnya. Mereka juga diperbolehkan mendirikan kembali Bait Allah di atas puing-puingnya. Setelah lima puluh tahun berada di tanah pembuangan, kira-kira 50 ribu orang Yahudi berarak kembali ke tanah leluhur. Di bawah raja Darius (522-486) di Persia, dan nabi Zakaria serta Hagai di Yerusalem, selesailah pembangunan kembali Bait Allah. Inilah awal dari suatu kehidupan rohani bangsa Yahudi, yaitu Yudaisme, ketika pembacaan Hukum Taurat menjadi lebih penting daripada kurban, ketika perkumpulan keagamaan tidak lagi diadakan di dalam Bait Allah, tetapi lebih sering di tempat umum. Inilah awal gerakan Sinagoga. Singkat kata, kembalinya bangsa Israel ke Tanah Suci dan diperbolehkannya membangun kembali Bait Allah di lokasi yang sama, ditafsirkan sebagai karya Allah sendiri. Raja Koresh, dan para penggantinya yang bersikap toleran terhadap bangsa Israel, dipandang sebagai alat-alat di tangan Allah. Tapi sungguhkah demikian? Apakah Koresh, raja Persia yang kafir itu, yang menyembah Ahura Mazda, ilah dalam agama Zoroaster, bersedia menerima julukan “alat di tangah Yahwe”, sembahan bangsa Yahudi yang ia bebaskan? Bukankah sang raja justru akan merasa direndahkan dengan julukan itu? Lagipula, apakah sungguh Allah berbicara kepada raja Koresh untuk membiarkan bangsa pilihanNya pulang dan membangun Bait Allah? Bukankah lebih masuk akal untuk memahami bahwa keputusan ini lebih didorong oleh motivasi politis: bangsa Israel, yang menjadi benteng terakhir bagi kerajaan Persia menghadapi kerajaan Mesir, saingan utamanya, diharapkan setia pada Persia karena sudah dibebaskan? Kalau begitu, apa yang dianggap karya Allah adalah tafsiran orang yang beriman semata. Tapi adakah kejadian dalam sejarah yang tidak ditafsirkan? Adakah informasi murni? Bukankah setiap informasi adalah sebentuk penafsiran karena informasi datang dari manusia dan untuk manusia, dan manusia adalah mahluk yang memahami dengan cara menafsirkan. Sudah sejak lama bangsa Israel menafsirkan kehadiran Allah dalam sejarahnya. Dan Kitab Suci sendiri memberikan beragam penafsiran itu kepada kita, sampai akhirnya datang Yesus, puncak dan akhir segala penafsiran dan pengenalan manusia akan karya Allah, dan bahkan akan Allah itu sendiri. Dalam Yesus, Allah berhenti menjadi bahan diskusi, dan orang mulai diundang untuk menjalin relasi: menjadi saudaraNya laki-laki dan perempuan. Kita tekun mendengarkan sabda, tekun menekuni dan merenungkan serta melaksanakannya, bukan untuk mencari tahu, mencari informasi, atau menjalankan hukum, tetapi kita ingin dekat denganNya, ingin menjadi saudaraNya.

Published in: on 21 September 2009 at 4:30 pm  Leave a Comment  

Sungguhkah aku (ingin) mengenal Allah?

Rabu, 16-09-2009

Bac. I: 1Tim. 3:14-16

Injil: Luk. 7:31-35

Apa itu artinya mengenal Allah? Mengenal Allah berarti mengenal namaNya (Yes. 52:6), mengakui bahwa Dia adalah pemilik hidupku (Yes. 1:3). Karena Dia adalah pemilik hidupku maka aku wajib mengetahui rencana dan jalanNya bagiku (Yes. 58:2), dan menaruh kepercayaanku padaNya dan segala rencana dan jalanNya bagiku (Mzm. 9:11).  Yang mengaku mengenal Allah tetapi tidak menjalankan kehendakNya, ia adalah seorang pendusta (1Yoh.  2:4). Karena jalanNya adalah kasih. maka barangsiapa mengenal Allah ia adalah orang yang berjalan di atas cinta sebab Allah adalah Cinta (1Yoh. 4:7). Dan kasih itu adalah ini: bukan kita yang mengasihi Allah tetapi Allah yang lebih dahulu mengasihi kita dengan mengutus anakNya ke dunia (1Yoh. 4:10). Maka kita bisa mengasihi seperti Allah mengasihi jika kita mengenal PutraNya dan mengikuti jalanNya, sebab barangsiapa tidak mengenal Putra tidak mengenal Bapa (Mat. 11:27). Kalau dirunut-runut seperti ini, kita akan merasa bahwa sebenarnya kita pun masih perlu dan harus terus menerus mengenal Allah. Sebab, seumur hidup kita akan terus belajar di sekolah cinta dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, sebagian dari ucapan rasul Paulus kepada Timotius ini kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (1Timotius 3:16), ditujukan juga kepada kita, yang masih terus belajar mencinta, terus belajar mengenal Allah. Salah satu hambatan mengenal Allah dengan belajar mencinta adalah ini: menganggap diri sebagai pusat dunia, seolah dunia harus mengikuti apa mauku. Ini yang disebut egoisme. Dalam perumpamaan tentang orang-orang sezamanNya, Yesus menyamakan mereka dengan anak-anak yang egoismenya masih besar. Mereka ingin mengubah pasar menjadi dugem dan kuburan. Orang yang sedang sibuk bertransaksi di pasar mereka paksa untuk mengikuti menari dan menangis: mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: kami meniup seruling bagimu tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka tetapi kamu tidak menangis (Luk. 7: 32). Kita bukanlah pusat dunia, bukanlah pusat sejarah, seolah-olah dunia dan semua orang harus mengerti perasaan dan kehendak kita. Jika masih teralalu terpaku dengan sikap ini, kita tidak akan mengenal rencana Allah yang dibawa oleh orang-orang utusanNya, bahkan yang dibawa oleh DiriNya sendiri dalam PutraNya. Kita tidak mengenal kasih. Mari kita doakan bersama doa mohon menjadi pembawa damai: semoga aku lebih ingin memahami daripada dipahami…

Published in: on 16 September 2009 at 4:01 am  Leave a Comment  

Perbincangan Teologis Kecil

(+) Mo, teologi itu pengetahuan atau bukan sih?

Teologi itu juga merupakan salah satu dari pengetahuan. Tapi ada bedanya dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Coba sekarang, untuk bisa mengetahui sesuatu, apa yang kamu perlukan.

(+) Maksud Romo?

Yah, pengetahuan manusiawi kita itu loh, bagaimana mendapatkannya? Contoh sederhana. Bagaimana kamu tahu kalau orang yang sedang berbicara dengan kamu sekarang ini adalah romo Uut.

(+) Yah saya sudah kenal wajah romo, kenal suara romo, tahu pembawaan romo. Gak bisa salah lagi deh. Ini romo Uut yang asli.

Hehe, nah sekarang, bagaimana kamu bisa mengenal wajah saya, mengenal suara saya?

(+) ya melalui indra dong. Kenal wajah romo karena melihat, kenal suara romo karena mendengar.

Tepat, beararti salah satu cara mengetahui adalah dengan menggunakan indra manusiawi kita: pendengaran, pengelihatan, penciuman, perabaan, dan pencecapan. Tetapi apa hanya melalui indra kita tahu sesuatu? Bagaimana dengan membaca, berhitung, mengambil kesimpulan. Apakah semua itu semata-mata dengan indra.

(+) Bukan mo. Itu pake otak.

Nah, ini cara kedua untuk mengetahui, yaitu menggunakan otak, menggunakan akal budi. Tapi masih ada cara lain loh.

(+) apa itu?

Dari mana kamu tahu kalau aku ini romo Uut yang asli. Bisa  saja aku pake topeng, trus niru suaranya romo Uut, terus berakting seolah-olah aku ini romo Uut.

(+) Gak lah. Kita pan dah akrab mo. Jadi, gak mungkin aku salah. Pasti kalau mo Ut palsu, aku dah feeling aja gitu….

Nah itu dia, feeling aja, atau bahasa kerennya intuisi. Itu cara ketiga mengetahui. Intuisi berarti perpaduan antara yang didapat dari indra dan akal budi, yang memberi juga pengetahuan pada kita. Intuisi ini banyak diolah oleh seniman. Jadi ada berapa sarana untuk mendapatkan pengetahuan manusiawi?

(+) ada tiga mo: indra, akal budi, dan intuisi.

Yup, benar. Bahasa latinnya: sensus, ratio, intellectus.

(+) Terus hubungannya ama teologi?

Teologi juga menggunakan ketiga sarana ini untuk membentuk pengetahuan teologis yang khas.

(+) Kekhasannya di mana?

Kekhasannya, selain menggunakan ketiga sarana tadi, teologi membutuhkan dua hal lainnya, yaitu wahyu dan iman.

(+) Oh gitu ya…

Yup. Maka, teologi bukan cuma ilusi atau mimpi atau jampi-jampi, tetapi harus bisa dipertanggungjawabkan secara nalar karena dia menggunakan ketiga sarana pengetahuan tadi. Wahyu dan iman harus bisa dijelaskan secara nalar, karena kita manusia bernalar, tetapi pasti tetap ada sisi-sisi yang tidak bisa dijelaskan secara memuaskan. Karena teologi berbicara soal misteri, yaitu sesuatu yang melampaui akal budi, bukan menolak akal budi.

(+) Ra mudheng…

Gini deh, gampangnya. Kamu pernah jatuh cinta?

(+) Ah romo, malu ah…

Husshhh, ini serius. Yo wis, jangan jatuh cinta deh. Sekarang bayangkan si mbok kamu aja. Kamu yakin si mbok kamu itu mencintai kamu.

(+) Yah romo, pake ditanya. Yakinlah. Kalau gak, mana mungkin aku dipiara sampe gede gini.

Bisa kamu jelaskan secara ilmiah bagaimana cinta si mbok itu padamu.

(+) Lah, gak lah. Secara ilmiah mungkin gak bisa, tapi dari yang keliatan aja, si mbok mengandung aku selama Sembilan bulan, terus melahirkan aku, terus memelihara aku, dengan air susunya, dengan doanya, kayak lagu di doa ibuku itu loh mo, terus juga dengan senyumnya, dengan belaian lembut tangannya (pasti romo tahu lagunya Melly yang bait awalnya berbunyi: Kubuka album biru….) dan lain sebagainya…

Apakah itu cukup untuk menjelaskan cinta si mbok….

(+) Hmmmmm….

Apakah kamu juga melibatkan kesedihan si mbok ketika kamu misalnya kurang bisa berterima kasih padanya, ketika suatu saat, di tengah kehidupannya, si mbok juga merasa kesepian karena harus ditinggalkan anak semata wayangnya ke Jakarta untuk belajar….

(+) Ah romo,…..hiks hiks…bikin sedih aja

Yah, untuk bikin kamu mudhen bahwa cinta juga sebuah misteri kehidupan. Ada sisi sukacita, ada juga dukanya. Dan lebih penting lagi, kita tak bisa membuatnya jelas seterang matahari kepada nalar kita tentang apa itu cinta. Demikian juga wahyu dan iman, pada hakikatnya adalah misteri karena melibatkan pribadi-pribadi yang saling mengasihi, yaitu Allah yang mewahyukan Diri dan manusia yang menanggapinya dalam iman. Kita tidak akan pernah bisa secara tuntas menjelaskan relasi pribadi ini dengan pisau analisis ilmiah….

(+) Oh gitu ya…..berarti pengetahuan kita memang terbatas yah….

Untung perkara manusiawi saja terbatas, apalagi untuk perkara iman dan wahyu. Teologi itu kan ilmu iman…. Nah untuk sekarang sampai di sini dulu ya. Besok dilanjutkan dengan membahas lebih dalam lagi tentang wahyu dan iman.

Published in: on 15 September 2009 at 6:49 am  Leave a Comment