MEESTER CORNELIS: KE SANA ROH BERHEMBUS

Hari Pembaptisan yang Bersejarah

Paroki St. Yosef, Matraman, sebagaimana dicatat oleh pastor Adolf Heuken, adalah paroki kedua di wilayah Keuskupan Agung Jakarta. Tonggak berdirinya paroki ini didasarkan pada baptisan pertama yang diadakan di gereja kecil di samping sekolah para Suster Ursulin di daerah Meester Cornelis: 22 Juni 1909. Pasangan Abraham van Oorde dan Jurgina Wilhelmina Zeydel tidak akan pernah menyangka bahwa hari pembaptisan puteri mereka, Christina Wilhelmina Cornelia, akan dijadikan hari bersejarah bagi stasi Meester Cornelis, yang waktu itu masih di bawah paroki Katedral. Kalau melihat nama-nama di atas, segera dapat kita tangkap bahwa cikal bakal jemaat paroki St. Yosef adalah komunitas orang-orang Katolik Eropa. Hal ini tidak akan membuat heran jika kita menyadari fakta lain, yaitu bahwa kehadiran Gereja Katolik di Batavia pada masa itu, adalah untuk pelayanan rohani orang-orang Eropa yang tinggal dan bekerja di dalam kota. Pewartaan iman akan Yesus Kristus kepada mereka yang belum mengenalNya lebih banyak dilakukan di daerah-daerah di luar kota Batavia. Paroki Kampung Sawah adalah kasus yang unik dan menarik, sebab jemaat perdana paroki ini bukan terdiri atas orang-orang Eropa tetapi orang-orang asli negeri ini. Maka, pastor Heuken pun menyatakan paroki Kampung Sawah sebagai paroki pribumi pertama di Keuksupan Agung Jakarta.

Lokasi Historis-geografis yang Menyampaikan Pesan

Tidak ada yang kebetulan di mata orang beriman. Demikian juga fakta bahwa paroki kedua di keuskupan agung ini berdiri di daerah Meester Cornelis harus dipahami sebagai kepingan rencana ilahi yang wajib dipelajari, dipahami, dan dilengkapi dengan kepingan lainnya. Apa kekhasan dari daerah Meester Cornelis ini? Ditinjau dari namanya saja, kita sudah akan berkenalan dengan seorang tokoh penyebar iman Kristen asli kelahiran ibu pertiwi: Meester Cornelis Senen. Senen adalah anak orang kaya dari Pulau Lontar. Pada tahun 1621 ia diasingkan ke Batavia. Pada tahun 1635 ia membuka sekolah, memimpin doa, dan membaca kotbah dalam bahasa Melayu. Senen adalah guru agama Kristen yang baik. Demikian baik teladan hidupnya sampai-sampai Gubernur Jenderal pada waktu itu mendukung pengangkatannya sebagai Pendeta tetap. Namun demikian, hal ini digagalkan oleh Dewan Gereja yang waktu itu masih enggan menerima orang pribumi menjabat kedudukan pendeta. Meester Cornelis Senen memiliki rumah dan perkebunan jati yang luas. Daerah perkebunan jati dan tempat tinggalnya ini kemudian diberi nama Meester Cornelis, dan sekarang Jatinegara.

Tidak jauh dari kurun waktu baptisan pertama secara Katolik di daerah Meester, pernah juga ada seorang tokoh agama Kristen, namanya Meester F.L. Anthing (1820-1883). Ia adalah seorang pewarta iman Kristen yang gigih, yang berpandangan bahwa untuk jemaat pribumi harus tampil seorang pemimpin jemaat pribumi juga. Oleh karena itu, bersama rekan-rekannya, Anthing mendirikan lembaga yang menerbitkan buku-buku Kristen berbahasa Melayu. Ia tinggal di daerah Meester dan menjadikan tempat tinggalnya itu sebagai sekolah para ‘katekis’ pribumi (terjadi sekitar tahun 1867). Beberapa murid Anthing inilah yang kemudian menjadi pemimpin jemaat Protestan di Kampung Sawah, suatu jemaat yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya paroki pribumi pertama di Keuskupan Agung Jakarta.

Pesan yang Menjadi Amanah

Apa yang menarik dari kisah dua pewarta iman Kristen ini? Lepas dari kenyataan bahwa mereka berdua bukan dari lingkungan Gereja Katolik Roma, tidakkah cukup menimbulkan tanda tanya, mengapa keduanya hadir dan berkarya di daerah yang sekarang disebut Jatinegara ini? Mengapa pula keduanya begitu menaruh minat pada kebudayaan setempat demi kemajuan pewartaan Kabar Gembira? Senen tidak mengabaikan bahasa Melayu dalam pengajaran dan kotbahnya dan tidak menolak untuk hadir dalam upacara sunatan dalam ritus Islam. Sementara Anthing, sebagaimana kita ketahui, mendirikan lembaga kepustakaan Kristen-Melayu dan mendidik calon-calon pemimpin jemaat dari penduduk setempat. Di tempat di mana Senen dan Anthing tinggal dan berkarya, yaitu di Meester Cornelis, Vikariat Apostolik Batavia membeli sebidang tanah pada tahun 1906 dan mendirikan gereja kecil di sana. Baptisan pertama di tahun 1909 membawa pesan bahwa di tempat ini sudah terbentuk suatu jemaat Katolik. Jauh sebelum baptisan itu terjadi, sejarah Meester Cornelis sebagai lokasi historis-geografis sudah lebih dulu menyampaikan pesan: di sini Roh Allah sudah bekerja untuk membawa semakin banyak orang, bukan hanya orang Eropa, kepada Kristus, dengan budaya, bahasa, dan tokoh-tokoh mereka sendiri. Pesan ini masih bergema dan sekaligus menjadi amanat bagi jemaat paroki St. Yosef Matraman. Pemberdayaan umat basis adalah salah satu tanda nyata ke arah perwujudan amanat ini. Jalan ke arah umat basis yang berdaya adalah menjadikan setiap umat gembala bagi sesamanya, sesuai dengan kebutuhan, tantangan, dan kebudayaan pada zamannya. Jangan dilupakan juga, pentingnya persekutuan dengan saudara-saudari seiman dalam Kristus. Kemajuan dalam ekumene adalah syarat agar pewartaan Kabar Sukacita dapat mengena pada sasarannya. Hanya dengan persatuan dalam persaudaraan dunia dapat percaya bahwa Kristus adalah utusan Allah Bapa.

Published in: on 21 May 2009 at 7:50 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://putrantotri.wordpress.com/2009/05/21/meester-cornelis-ke-sana-roh-berhembus/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: