Buah dari Pelayanan Sejati adalah Damai

Renungan Harian: Kamis, 18 Juni 2009

Relasi dengan Allah adalah dasar hidup kita. Kita menjadi manusia yang paripurna jika relasi dengan Allah menjadi kiblat dan wadas kokoh hidup kita. Ketika relasi ini goyah, demikian pula kemanusiaan kita mengalami goncangan. Relasi dengan Allah menjadi nyata dalam doa. Oleh karena itu, di dalam kotbah di bukit, Yesus pun mengajarkan doa hatiNya kepada para muridNya yaitu doa Bapa Kami. Pertama-tama, doa Bapa Kami memberikan kita petunjuk ke arah pengenalan akan Allah yang benar. Allah adalah Bapa dan Bapa adalah kasih, seperti ajaran Yesus: jadilah engkau sempurna seperti Bapamu di surga adalah sempurna….yang menerbitkan matahari baik bagi orang benar maupun orang berdosa. Yesus dipanggil Putera karena hidupNya memantulkan kasih Bapa yang tiada batas itu. Dengan doa Bapa Kami, kita mengakui bahwa Allah pertama-tama adalah kasih. Kita adalah anak-anak kasih yang diciptakan untuk mengasihi dan dikasihi. Dan bagi Matius, kasih itu mencapai puncaknya ketika terjadi pengampunan, artinya menerima yang lain apa adanya, sebab Allah juga menerima semuanya sebagai anak-anakNya. Yang tidak bertindak seperti Bapa tidak dapat mengakui dirinya sebagai anak. Berat! Tetapi, jangan patah semangat. Mintalah Roh Kudus, yaitu diri Allah sendiri, maka kita akan hidup sebagai anak-anakNya yang sejati. Inilah yang ditemukan di dalam Injil Lukas. Berbuat salah itu manusiawi tetapi mengampuni itu ilahi. Paulus dalam suratnya yang kedua kepada umat di Korintus mengulang kembali apa yang diajarkan Yesus. Setiap pelayanan senantiasa membawa penghayatan tertentu atas relasi dengan Allah. Maka, pelayanan bukan sekedar aktivitas tetapi sarana membawa kasih Allah kepada orang lain. Paulus menegaskan bahwa pelayanannya menghadirkan kembali Yesus, Injil, dan rohnya sendiri. Jadi, jika datang pewarta lain yang membawa Yesus yang berbeda, Injil yang berbeda, dan roh yang berbeda, yaitu yang hanya melahirkan perpecahan, patut dipertanyakan: relasi dengan Allah macam apa yang dimiliki orang ini? Pertanyaan bagi kita: apakah kehadiran dan pelayananku membawa kedamaian sebagi buah dari kasih, dan kasih buah dari iman, dan iman buah dari doa, dan doa buah dari keheningan? Tuhan memberkati.

Published in: on 18 June 2009 at 5:05 am  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://putrantotri.wordpress.com/2009/06/18/buah-dari-pelayanan-sejati-adalah-damai/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. Satu kalimat yg menarik :pelayanan bukan sekedar aktivitas tetapi sarana membawa kasih Allah kepada orang lain.. dg kt lain pelayanan kita hrs membawa sesama agar lbh dkt dg Allah… bgmn klu tjd sebaliknya Romo? Pelayanan yg kt lakukan membuat orang lain sakit hati, pth smgt, mundur dr pelayanan ybs…

    • Ada dua kemungkinan: pertama patut dipertanyakan, di satu sisi motivasi pelayananku dan di sisi lain bagaimana motivasi itu kuwujudkan di dalam prakteknya. Jika motivasi itu adalah kasih Allah, bukan demi gengsi atau kepentingan diri lainnya, maka pelayanan punya dua karakter dalam perwujudannya: keterlibatan sampai pada pemberian diri dan kerendahan hati. Kalau tidak ada dua karakter itu, patut dilihat kembali secara jujur motivasi di balik pelayananku. kemungkinan kedua, yang dipertanyakan adalah komunitas di mana aku melayani…apakah juga memiliki karakter yang sama, yaitu siap melibatkan diri dan siap menjadi rendah hati? Pelayanan yang tepat belum tentu berbuah kalau terjadi di dalam komunitas yang tidak sehat. Trims buat komentarnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: