Bukan Besar-Kecil, tetapi Pertumbuhan

Renungan Harian, Senin 27 Juli 2009,
Bac. I: Kel. 32:15-24.30-34
Injil: Mat. 13:31-35

Manusia melihat, mengukur, menilai dan membedakan sesuatu. Berarti, penilaian manusiawi bersandar pada apa yang dilhatnya, pada inderanya. Akan tetapi, kenyataan sesungguhnya tidak selamanya sesuai dengan apa yang kelihatan, sebab kenyataan itu dinamis, kenyataan itu bertumbuh, dan berubah. Walau perubahan itu mungkin tidak kelihatan, kecil saja. Ambil contoh, setiap menit, jutaan sel dalam tubuh kita berubah, but who cares? Siapa yang peduli? Tidak ada yang peduli, tetapi perubahan sel-sel itu begitu penting untuk kelangsungan hidup setiap individu. Contoh lain: udara yang kita hirup senantiasa udara yang baru, yang diproduksi oleh dedaunan hijau sebagai hasil dari proses kimia yang disebut fotosintesis. Tetapi sekali lagi, who cares? Oleh karena itu, besar kecil sebagai ukuran manusiawi tidak menentukan nilai suatu kenyataan, sebab ada nilai lain yang perlu dicermati, yaitu pertumbuhan. Seperti biji sesawi dalam perumpamaan Yesus hari ini. Besar kecil bukan masalah, tetapi pertumbuhan yang jadi perhatian. Apa itu pertumbuhan? Pertumbuhan dan perubahan bukan pertama-tama perkara doing atau melakukan sesuatu, mengubah sesuatu. Tetapi pertama-tama adalah being atau berada. Being mendahului doing. Kita diciptakan untuk ada dulu baru bisa bertindak. Maka, perubahan berangkat dari kesadaran dan penghargaan atas adaku saat ini, dalam bahasa iman: syukur. Berarti mensyukuri setiap detik sebagai harta terpendam. Harta itu akan ditemukan dalam pilihan, dan pilihan tergantung dari skala prioritas yang kumiliki. Mau kuapakan detik ini? Jika detik ini kugali untuk mencari Kerajaan Allah, maka itulah pertumbuhan. Tumbuh berarti bersyukur dan memilih Kerajaan Allah, dalam setiap detiknya.

Published in: on 27 July 2009 at 1:22 am  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://putrantotri.wordpress.com/2009/07/27/bukan-besar-kecil-tetapi-pertumbuhan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. Kelihatannya sederhana ya Romo… “bersyukur”dalam tiap detik.. tapi bagaimana klu kita berada dalam detik-detik yang tidak enak? Bgmna bisa tetap bersyukur”? Praktiknya akan susah sekali…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: