Doa Hening 1: Doa Tubuh

Keheningan menurut Ibu Teresa dari Kalkuta

Apa itu keheningan? Menurut Ibu Teresa dari Kalkuta, keheningan haruslah melibatkan jasmani dan rohani karena kita adalah manusia, mahluk jasmanirohani. Maka keheningan meliputi: keheningan mata, artinya kita melihat dan mencari yang baik dalam seseorang, dalam peristiwa, dalam alam semesta, dan belajar menghindari melihat segala hal yang menjerumuskan kita ke dalam dosa dan kegelisahan batin; keheningan telinga, artinya kita membuka telinga kita pada sabda Allah dan jeritan sesama yang membutuhkan dan belajar untuk tidak mendengarkan gossip, kabar burung, isu, dan segala hal yang membawa perpecahan; keheningan mulut, artinya dengan mulut kita memuji dan meluhurkan Tuhan, memberikan kata-kata yang inspiratif dan membangun hidup sesama, dan belajar untuk tidak menyebarkan segala yang mematikan pertumbuhan seseorang, kata-kata keji dan fitnah serta makian; keheningan pikiran, artinya kita senantiasa memikirkan apa yang baik, apa yang memawa manfaat bagi banyak orang, apa yang dikehendaki Allah dan belajar untuk berhentik memikirkan diri kita sendiri serta pikiran negatif tentang diri kita dan sesama; dan akhirnya keheningan hati, yaitu dalam hati kita menyimpan segala yang baik, menyatukan kehendak Allah yang kita timba dari Kitab Suci dengan kehendak kita, dan belajar untuk membuang benci dendam, dan segala keinginan yang menjauhkan kita dari Allah dan sesama. Maka sebenarnya keheningan berarti menjadi diri sendiri di hadapan Allah dengan mendengarkan firmanNya dan melakukan kehendakNya.

Doa Hening dan Doa Tubuh

Doa hening adalah sebuah latihan, yaitu latihan untuk berada saat ini, di sini, sebagai diriku secara jasmanirohani. Alasan latihan ini adalah kenyataan bahwa dalam kehidupan harian kita biasa dikejar waktu, dikejar tugas, lari ke sana ke mari untuk melakukan ini itu, tanpa memeriksa lagi alasan yang paling mendasar: untuk apa kulakukan ini semua. Hidup ibarat seorang penunggang kuda yang memacu kudanya secepat mungkin tanpa tahu ke mana dan mau apa. Maka, doa hening adalah latihan untuk berhenti sejenak, memeriksa diri kita, dan menjadi diri kita saat ini, di sini, di hadapan Tuhan. Tujuan adalah supaya kita semakin mengenal diri kita dalam kasihNya hingga kita semakin mampu membedakan apa kata dunia dan apa kata Allah dan mengikuti yang kedua.

Yang diperlukan adalah tempat yang sesuai untuk berdoa, waktu yang cukup, dan disiplin. Maka, di tempat yang sudah ditentukan, silahkan ambil posisi doa yang enak. Paling cocok mengambil posisi dalam istilah Yoga disebut lotus, yaitu menempatkan kedua punggung telapak kaki ke atas kedua paha kita. Posisi ini membantu punggung untuk tetap tegak dan juga memperlancar konsentrasi. Yang penting adalah menjaga punggung tetap tegak agar pikiran lebih mudah diarahkan dan rasa kantuk atau hilang kesadaran dapat dihindari. Setelah siap, pejamkan kedua mata. Sadari pertama-tama bahwa kita punya tubuh, lengkap dengan semua anggotanya: ada dua tangan, kaki, kepala, hidung, mata, telinga, rambut. Sadari perasaan yang muncul melalui kulit kita: rasa gatal di kaki, tangan, dan seterusnya. Intinya adalah memulai doa dengan kesadaran dan bukan dengan pemikiran. Tubuh kita juga memiliki bahasa dan ungkapan doa. Maka pada awal doa ini biarkan tubuh kita yang berbicara dengan menyampaikan kepada kita sensasi yang mereka miliki. Jangan beri nama pada sensasi itu, misalnya ada rasa gatal jangan ucapkan kata gatal di dalam pikiran kita. Rasakan saja. Lakukan hal ini beberapa menit, untuk kemudian beralih pada pendengaran. Bukalah telinga pada setiap bunyi, detik jarum jam, suara orang ngobrol di luar, degup jantung kita sendiri, dan seterusnya. Tangkap bunyi dan suara yang berbeda-beda itu, sambil tetap menyadari sensasi pada kulit kita. Lakukan ini beberapa menit lamanya. Sesudah itu, sadari pernafasan kita, udara yang kita hirup dan hembuskan. Ini bagian yang tidak begitu mudah, sebab di sini biasanya kendala muncul. Kita biasa bernafas dengan tergesa-gesa. Pernafasan kita menjadi teratur hanya ketika kita tidur. Tetapi sekarang ini, dalam keadaan sadar, kita ingin bernafas lebih lembut, lebih teratur, sambil menjaga kesadaran kita. Sadari saja lebih dulu udara yang keluar masuk melalui hidup kita. Apa yang dirasakan oleh dinding-dinding hidung kita ketika udara masuk dan keluar. Buatlah pernafasan menjadi lebih pelan dan lebih lembut. Lakukan ini beberapa menit.

Ada variasi dalam hal ini. Ketika sudah beberapa kali melakukan latihan penyadaran ini, kita dapat menggunakan fantasi kita. Misalnya: ketika menyadari sensasi atas kulit kita, kita dapat membayangkan jutaan sel yang membentuk kulit kita, jutaan sel yang bekerja menyampaikan setiap sensasi itu ke pikiran kita dan mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang biasanya terjadi secara spontan, seperti menggaruk. Kita bayangkan prose situ sebagai karya Allah yang luar biasa, keajaiban yang dunia ilmu pengetahuan belum bisa menguak misterinya sepenuhnya. Atau ketika kita menghirup udara dan mengeluarkannya. Kita bayangkan betapa kita sebenarnya tenggelam di dalam samudera oksigen, samudera udara. Kita  laksana ikan bukan di dalam air tetapi di dalam lautan oksigen. Betapa oksigen ini bukan kita yang menciptakan, tetapi datang kepada kita dari Tuhan, dengan begitu berlimpahnya, tanpa campur tangan dan jasa kita. Sambil menghirup oksigen, kita bayangkan butiran-butiran cahaya memasuki lubang hidung kita dan memenuhi seluruh tubuh kita di bagian dalamnya. Inilah kasih Allah yang Ia titipkan di dalam setiap butiran oksigen yang kita hirup. Dan setiap kali kita menghembuskan udara keluar, kita bayangkan butiran-butiran hitam kelam, yaitu setiap perasaan negative yang muncul di dalam diri kita: perasaan takut, benci, dendam, rendah diri, tidak diterima, gagal, dan seterusnya. Kita keluarkan perasaan-perasaan negative ini di dalam udara yang kita hembuskan keluar. Inilah doa tubuh.

Ketika kita melakukan penyadaran tubuh ini, biasanya pikiran kita meloncat ke sana ke mari, dari gambaran satu ke gambaran lainnya. Setiap kali kita terbawa ke pikiran dan gambaran tadi, kembalilah kepada penyadaran tubuh, kembalilah kepada sensasi-sensasi indrawi tadi. Jangan menolak pikiran, tetapi kembalilah kepada sensasi indrawi. Pelan-pelan, kita akan mampu mengamati pikiran-pikiran tadi, mengikuti loncatan-loncatannya, hingga pikiran itu akan lelah sendiri dan akhirnya kita berada di dalam keheningan, antara kita dengan diri kita. Pada saat itulah, kita siap masuk ke dalam tahap berikutnya.

Published in: on 30 July 2009 at 1:24 am  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://putrantotri.wordpress.com/2009/07/30/doa-hening-1-doa-tubuh/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. Terimakasih Romo…. harus segera saya praktikkan, dan kendala terbesar adalah : DISIPLIN.

  2. Romo.. apakah ada posisi lain selain lotus, yg bisa membantu punggung tetap tegak & mdh berkonsentrasi? Mengingat tidak mudah jg posisi tsb….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: