Menjadi Manusia

Menjadi Manusia: belajar dari Aristoteles

Franz Magnis-Suseno, Kanisius, Yogyakarta, 2009

Sekilas tentang Aristoteles:

Aristoteles lahir pada tahun 384 dan wafat pada tahun 322. Ia adalah salah satu murid Plato. Di usia belia, ia menjadi guru Alexander Agung, raja Makedonia. Ia mendirikan sekolah filsafat sendiri di Athena, Lykaion. Bukunya tentang moral dan etika menjadi sangat terkenal, yaitu Etika Nikomacheia.

Apa tujuan hidupku?

Dasar dari etika Aristoteles adalah keyakinan bahwa setiap perbuatan kita senantiasa mengejar suatu nilai. Aku berbuat ini atau itu karena sesuatu. Maka, setiap perbuatan kita pasti punya tujuan. Ada dua tujuan: tujuan sementara dan tujuan akhir. Tujuan sementara adalah sarana untuk mencapai tujuan akhir. Apa tujuan akhir yang ingin kucapai? Jawaban Aristoteles: tujuan akhir yang ingin dicapai setiap orang adalah kebahagiaan. Tiga catatan tentang kebahagiaan: pertama, kalau kebahagiaan adalah tujuan akhir, maka tujuan lainnya sekedar sarana, khususnya uang, nama baik, dan kenikmatan jasmani; kedua, kebahagiaan jangan dipertentangkan dengan tujuan akhir agama sebab istilahnya saja berbeda tetapi isinya sama: persatuan dengan Allah adalah kebahagiaan tertinggi orang beriman; dan ketiga kebahagiaan adalah buah dari pengolahan hidup secara aktif.

Bahagia = cari nikmat dan hindari sakit atau penderitaan?

Epikuros (341-327) pernah mengajarkan: orang akan bahagia kalau ia mencari kenikmatan sebanyak-banyaknya dan menghindari penderitaan sedapat mungkin. Benarkah cara hidup ini menghasilkan kebahagiaan? Tanggapan Aristoteles: pertama, rasa nikmat dan rasa sakit masing-masing punya daya tarik dan daya tolak yang kuat. Maka keduanya dapat digunakan untuk melatih anak agar menikmati atau tertarik akan apa yang baik dan menjauhi atau menolak akan apa yang buruk. Kedua, rasa nikmat dan rasa sakit adalah buah dari perbuatan. Maka kualitas rasa nikmat dan sakit tergantung dari kualitas perbuatannya: ada rasa nikmat yang luhur, yaitu rasa nikmat yang lahir dari perbuatan yang luhur dan ada rasa nikmat yang buruk karena lahir dari perbuatan yang buruk.  Apa itu perbuatan yang luhur dan perbuatan yang buruk yang masing-masing melahirkan rasa nikmat yang luhur dan yang buruk? Perbuatan luhur adalah perbuatan yang mengembangkan segi-segi hakiki kemanusiaan kita dan perbuatan yang buruk adalah perbuatan yang tidak mengembangkannya, atau membuat kita tidak berbeda dengan mahluk non manusiawi lainnya, yaitu hewan dan tumbuhan. Maka, bagi Aristoteles, ada tiga rasa nikmat yang dapat dikejar oleh manusia: nikmat jasmani, nikmat politik dan nikmat filsafat. Kalau nikmat jasmani dikejar sebagai tujuan, maka hal itu akan menghasilkan nikmat yang tidak luhur dan tidak menghasilkan kebahagiaan.  Tetapi nikmat politik dan filsafat akan menghasilkan kebahagiaan jika dikejar sebab keduanya mengembangkan segi-segi kemanusiaan yang hakiki. Apa saja itu?

Pengembangan diri

Kebahagiaan lahir sebagai buah dari usaha manusia untuk mengembangkan segi-segi hakiki dari kemanusiaannya. Apa itu mengembangkan diri? Mengembangkan diri berarti secara aktif dan sadar mengusahakan dirinya tumbuh semakin manusiawi lewat cara hidup yang nyata. Cara hidup yang nyata diusahakan ke arah pertumbuhan dua segi hakiki kemanusiaan kita yaitu: filsafat dan politik. Dengan filsafat dimaksudkan suatu kegiatan merenungkan hal-hal yang abadi. Theory, menurut arti asalinya, berarti memandang hal-hal yang ilahi, yang abadi, yang tidak berubah. Hal ini akan membuat manusia bahagia, sebab mengembangkan segi rohani atau spiritual di dalam dirinya. Berbeda dengan hewan, manusia memiliki roh, memiliki akal budi. Dengan berfilsafat, manusia mengembangkan roh dan akal budinya dan ia akan bahagia. Cara hidup yang konkret adalah dengan hidup secara sadar dan kritis, tidak malas mencari kebenaran lewat membaca dan permenungan. Hidup tidak lagi ditentukan oleh perasaan dan emosi, tetapi dinahkodai oleh akal budi atau menurut istilah Jawa oleh rasa. Akal budi di sini bukan sekedar keterampilan dan pengetahun teknis dan praktis tetapi, seperti arti asli theoria, merupakan unsur rohani manusia, yang membuatnya mampu mengatasi beragam keterbatasan dan perubahan dalam hidupnya di dunia. Sedangkan kehidupan politik, dari kata polis artinya Negara kota, mengembangkan unsur sosial di dalam diri manusia. Unsur sosial di dalam diri manusia berbeda dengan  apa yang kelihatannya juga ditemukan di dalam diri beberapa hewan yang hidup dalam kelompok seperti lebah dan semut. Lebah dan semut hidup dalam kelompok karena panggilan alam dan tanpa suatu kesadaran dan kebebasan. Tidak ada keterlibatan di sana yang ada adalah suatu gerakan alamiah semata, tidak jauh berbeda dengan robot yang sudah diprogram untuk melakukan gerakan tertentu. Segi sosial sejati ditemukan di dalam diri manusia karena sosialitas manusiawi diwujudkan dengan kesadaran untuk memilih ikut bertanggung jawab atas berjalan dan berkembangnya hidup bersama. Dengan terlibat dalam kehidupan bersama, secara sadar dan aktif serta bertanggungjawab, manusia akan berbahagia, karena unsur hakiki kemanusiaan, yaitu sosialitasnya, berkembang.

Keutamaan dan Persahabatan

Sampai di sini menjadi semakian jelas bahwa manusia akan berbahagia bukan dengan berpangku tangan untuk menikmati segala yang asa sepuasnya dan menjauhi rasa sakit, tetapi dengan aktif mengembangkan segi rohani dan sosialnya. Dalam upaya mengembangkan segi-segi hakiki ini, manusia pasti menghadapi beragam tantangan yang nyata. Tantangan adalah situasi yang muncul di luar rencana kita yang tidak selalu sesuai dengan harapan kita dalam mengembangkan hidup kita. Justru dengan menghadapi beragam tantangan ini kita berkembang karena upaya menghadapi dan mengolah tantangan memancing segenap potensi yang masih terkubur di dalam diri kita untuk keluar. Maka, bukan dengan merenung di dalam ruang tertutup manusia berkembang, tetapi dengan menatap keluar dan menjalankan tugas-tugasnya karena di sanalah ia akan mengahadapi tantangan yang mengubah potensi di dalam diri kita menjadi nyata. Kemampuan untuk terus memilih mengembangkan segi rohani dan sosial di dalam diri kita, apa pun tantangan dan kesulitannya, disebut keutamaan. Kalau diibaratkan pengembangan segi rohani dan sosial sebagai suatu jalan, maka keutamaan adalah kehendak di dalam diri kita untuk terus melangkah di atas jalan ini. Dan keutamaan tertinggi ditemukan di dalam persahabatan, karena di sanalah manusia tidak lagi berfokus pada dirinya sendiri tetapi mulai menatap wajah sesamanya sebagai saudara. Bukan berarti lantas setiap pribadi melupakan dirinya sendiri, sebab hanya orang yang tahu mencintai dirinya sendiri, yaitu memperlakukan hidupnya sedemikian rupa sehingga segi rohani dan sosialnya bertumbuh, yang dapat memberi cinta. Apa yang dialami dan diyakini baik itu hendak ia berikan juga kepada sahabatnya. Maka persahabatan pun ada tiga jenis: persahabatan atas dasar keuntungan, persahabatan atas dasar rasa nikmat, dan persahatan atas cinta. Hanya jenis persahabatan terakhir yang merupakan puncak keutamaan dan mengembangkan dan karena itu memberi kebahagiaan.

Published in: on 3 August 2009 at 5:05 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://putrantotri.wordpress.com/2009/08/03/menjadi-manusia/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: