Perbincangan Teologis Kecil

(+) Mo, teologi itu pengetahuan atau bukan sih?

Teologi itu juga merupakan salah satu dari pengetahuan. Tapi ada bedanya dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Coba sekarang, untuk bisa mengetahui sesuatu, apa yang kamu perlukan.

(+) Maksud Romo?

Yah, pengetahuan manusiawi kita itu loh, bagaimana mendapatkannya? Contoh sederhana. Bagaimana kamu tahu kalau orang yang sedang berbicara dengan kamu sekarang ini adalah romo Uut.

(+) Yah saya sudah kenal wajah romo, kenal suara romo, tahu pembawaan romo. Gak bisa salah lagi deh. Ini romo Uut yang asli.

Hehe, nah sekarang, bagaimana kamu bisa mengenal wajah saya, mengenal suara saya?

(+) ya melalui indra dong. Kenal wajah romo karena melihat, kenal suara romo karena mendengar.

Tepat, beararti salah satu cara mengetahui adalah dengan menggunakan indra manusiawi kita: pendengaran, pengelihatan, penciuman, perabaan, dan pencecapan. Tetapi apa hanya melalui indra kita tahu sesuatu? Bagaimana dengan membaca, berhitung, mengambil kesimpulan. Apakah semua itu semata-mata dengan indra.

(+) Bukan mo. Itu pake otak.

Nah, ini cara kedua untuk mengetahui, yaitu menggunakan otak, menggunakan akal budi. Tapi masih ada cara lain loh.

(+) apa itu?

Dari mana kamu tahu kalau aku ini romo Uut yang asli. Bisa  saja aku pake topeng, trus niru suaranya romo Uut, terus berakting seolah-olah aku ini romo Uut.

(+) Gak lah. Kita pan dah akrab mo. Jadi, gak mungkin aku salah. Pasti kalau mo Ut palsu, aku dah feeling aja gitu….

Nah itu dia, feeling aja, atau bahasa kerennya intuisi. Itu cara ketiga mengetahui. Intuisi berarti perpaduan antara yang didapat dari indra dan akal budi, yang memberi juga pengetahuan pada kita. Intuisi ini banyak diolah oleh seniman. Jadi ada berapa sarana untuk mendapatkan pengetahuan manusiawi?

(+) ada tiga mo: indra, akal budi, dan intuisi.

Yup, benar. Bahasa latinnya: sensus, ratio, intellectus.

(+) Terus hubungannya ama teologi?

Teologi juga menggunakan ketiga sarana ini untuk membentuk pengetahuan teologis yang khas.

(+) Kekhasannya di mana?

Kekhasannya, selain menggunakan ketiga sarana tadi, teologi membutuhkan dua hal lainnya, yaitu wahyu dan iman.

(+) Oh gitu ya…

Yup. Maka, teologi bukan cuma ilusi atau mimpi atau jampi-jampi, tetapi harus bisa dipertanggungjawabkan secara nalar karena dia menggunakan ketiga sarana pengetahuan tadi. Wahyu dan iman harus bisa dijelaskan secara nalar, karena kita manusia bernalar, tetapi pasti tetap ada sisi-sisi yang tidak bisa dijelaskan secara memuaskan. Karena teologi berbicara soal misteri, yaitu sesuatu yang melampaui akal budi, bukan menolak akal budi.

(+) Ra mudheng…

Gini deh, gampangnya. Kamu pernah jatuh cinta?

(+) Ah romo, malu ah…

Husshhh, ini serius. Yo wis, jangan jatuh cinta deh. Sekarang bayangkan si mbok kamu aja. Kamu yakin si mbok kamu itu mencintai kamu.

(+) Yah romo, pake ditanya. Yakinlah. Kalau gak, mana mungkin aku dipiara sampe gede gini.

Bisa kamu jelaskan secara ilmiah bagaimana cinta si mbok itu padamu.

(+) Lah, gak lah. Secara ilmiah mungkin gak bisa, tapi dari yang keliatan aja, si mbok mengandung aku selama Sembilan bulan, terus melahirkan aku, terus memelihara aku, dengan air susunya, dengan doanya, kayak lagu di doa ibuku itu loh mo, terus juga dengan senyumnya, dengan belaian lembut tangannya (pasti romo tahu lagunya Melly yang bait awalnya berbunyi: Kubuka album biru….) dan lain sebagainya…

Apakah itu cukup untuk menjelaskan cinta si mbok….

(+) Hmmmmm….

Apakah kamu juga melibatkan kesedihan si mbok ketika kamu misalnya kurang bisa berterima kasih padanya, ketika suatu saat, di tengah kehidupannya, si mbok juga merasa kesepian karena harus ditinggalkan anak semata wayangnya ke Jakarta untuk belajar….

(+) Ah romo,…..hiks hiks…bikin sedih aja

Yah, untuk bikin kamu mudhen bahwa cinta juga sebuah misteri kehidupan. Ada sisi sukacita, ada juga dukanya. Dan lebih penting lagi, kita tak bisa membuatnya jelas seterang matahari kepada nalar kita tentang apa itu cinta. Demikian juga wahyu dan iman, pada hakikatnya adalah misteri karena melibatkan pribadi-pribadi yang saling mengasihi, yaitu Allah yang mewahyukan Diri dan manusia yang menanggapinya dalam iman. Kita tidak akan pernah bisa secara tuntas menjelaskan relasi pribadi ini dengan pisau analisis ilmiah….

(+) Oh gitu ya…..berarti pengetahuan kita memang terbatas yah….

Untung perkara manusiawi saja terbatas, apalagi untuk perkara iman dan wahyu. Teologi itu kan ilmu iman…. Nah untuk sekarang sampai di sini dulu ya. Besok dilanjutkan dengan membahas lebih dalam lagi tentang wahyu dan iman.

Published in: on 15 September 2009 at 6:49 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://putrantotri.wordpress.com/2009/09/15/perbincangan-teologis-kecil/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: