Sungguhkah aku (ingin) mengenal Allah?

Rabu, 16-09-2009

Bac. I: 1Tim. 3:14-16

Injil: Luk. 7:31-35

Apa itu artinya mengenal Allah? Mengenal Allah berarti mengenal namaNya (Yes. 52:6), mengakui bahwa Dia adalah pemilik hidupku (Yes. 1:3). Karena Dia adalah pemilik hidupku maka aku wajib mengetahui rencana dan jalanNya bagiku (Yes. 58:2), dan menaruh kepercayaanku padaNya dan segala rencana dan jalanNya bagiku (Mzm. 9:11).  Yang mengaku mengenal Allah tetapi tidak menjalankan kehendakNya, ia adalah seorang pendusta (1Yoh.  2:4). Karena jalanNya adalah kasih. maka barangsiapa mengenal Allah ia adalah orang yang berjalan di atas cinta sebab Allah adalah Cinta (1Yoh. 4:7). Dan kasih itu adalah ini: bukan kita yang mengasihi Allah tetapi Allah yang lebih dahulu mengasihi kita dengan mengutus anakNya ke dunia (1Yoh. 4:10). Maka kita bisa mengasihi seperti Allah mengasihi jika kita mengenal PutraNya dan mengikuti jalanNya, sebab barangsiapa tidak mengenal Putra tidak mengenal Bapa (Mat. 11:27). Kalau dirunut-runut seperti ini, kita akan merasa bahwa sebenarnya kita pun masih perlu dan harus terus menerus mengenal Allah. Sebab, seumur hidup kita akan terus belajar di sekolah cinta dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, sebagian dari ucapan rasul Paulus kepada Timotius ini kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (1Timotius 3:16), ditujukan juga kepada kita, yang masih terus belajar mencinta, terus belajar mengenal Allah. Salah satu hambatan mengenal Allah dengan belajar mencinta adalah ini: menganggap diri sebagai pusat dunia, seolah dunia harus mengikuti apa mauku. Ini yang disebut egoisme. Dalam perumpamaan tentang orang-orang sezamanNya, Yesus menyamakan mereka dengan anak-anak yang egoismenya masih besar. Mereka ingin mengubah pasar menjadi dugem dan kuburan. Orang yang sedang sibuk bertransaksi di pasar mereka paksa untuk mengikuti menari dan menangis: mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: kami meniup seruling bagimu tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka tetapi kamu tidak menangis (Luk. 7: 32). Kita bukanlah pusat dunia, bukanlah pusat sejarah, seolah-olah dunia dan semua orang harus mengerti perasaan dan kehendak kita. Jika masih teralalu terpaku dengan sikap ini, kita tidak akan mengenal rencana Allah yang dibawa oleh orang-orang utusanNya, bahkan yang dibawa oleh DiriNya sendiri dalam PutraNya. Kita tidak mengenal kasih. Mari kita doakan bersama doa mohon menjadi pembawa damai: semoga aku lebih ingin memahami daripada dipahami…

Published in: on 16 September 2009 at 4:01 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://putrantotri.wordpress.com/2009/09/16/sungguhkah-aku-ingin-mengenal-allah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: