Melihat Karya Allah dalam Sejarah

Renungan Harian: Selasa 21-09-2009

Bac. I: Ezra 6:7-8. 12b. 14-20

Injil: Luk. 8:19-21

Pada tahun 538 SM, Koresh, raja Persia, mengijinkan orang-orang Yahudi kembali ke tanah asalnya. Mereka juga diperbolehkan mendirikan kembali Bait Allah di atas puing-puingnya. Setelah lima puluh tahun berada di tanah pembuangan, kira-kira 50 ribu orang Yahudi berarak kembali ke tanah leluhur. Di bawah raja Darius (522-486) di Persia, dan nabi Zakaria serta Hagai di Yerusalem, selesailah pembangunan kembali Bait Allah. Inilah awal dari suatu kehidupan rohani bangsa Yahudi, yaitu Yudaisme, ketika pembacaan Hukum Taurat menjadi lebih penting daripada kurban, ketika perkumpulan keagamaan tidak lagi diadakan di dalam Bait Allah, tetapi lebih sering di tempat umum. Inilah awal gerakan Sinagoga. Singkat kata, kembalinya bangsa Israel ke Tanah Suci dan diperbolehkannya membangun kembali Bait Allah di lokasi yang sama, ditafsirkan sebagai karya Allah sendiri. Raja Koresh, dan para penggantinya yang bersikap toleran terhadap bangsa Israel, dipandang sebagai alat-alat di tangan Allah. Tapi sungguhkah demikian? Apakah Koresh, raja Persia yang kafir itu, yang menyembah Ahura Mazda, ilah dalam agama Zoroaster, bersedia menerima julukan “alat di tangah Yahwe”, sembahan bangsa Yahudi yang ia bebaskan? Bukankah sang raja justru akan merasa direndahkan dengan julukan itu? Lagipula, apakah sungguh Allah berbicara kepada raja Koresh untuk membiarkan bangsa pilihanNya pulang dan membangun Bait Allah? Bukankah lebih masuk akal untuk memahami bahwa keputusan ini lebih didorong oleh motivasi politis: bangsa Israel, yang menjadi benteng terakhir bagi kerajaan Persia menghadapi kerajaan Mesir, saingan utamanya, diharapkan setia pada Persia karena sudah dibebaskan? Kalau begitu, apa yang dianggap karya Allah adalah tafsiran orang yang beriman semata. Tapi adakah kejadian dalam sejarah yang tidak ditafsirkan? Adakah informasi murni? Bukankah setiap informasi adalah sebentuk penafsiran karena informasi datang dari manusia dan untuk manusia, dan manusia adalah mahluk yang memahami dengan cara menafsirkan. Sudah sejak lama bangsa Israel menafsirkan kehadiran Allah dalam sejarahnya. Dan Kitab Suci sendiri memberikan beragam penafsiran itu kepada kita, sampai akhirnya datang Yesus, puncak dan akhir segala penafsiran dan pengenalan manusia akan karya Allah, dan bahkan akan Allah itu sendiri. Dalam Yesus, Allah berhenti menjadi bahan diskusi, dan orang mulai diundang untuk menjalin relasi: menjadi saudaraNya laki-laki dan perempuan. Kita tekun mendengarkan sabda, tekun menekuni dan merenungkan serta melaksanakannya, bukan untuk mencari tahu, mencari informasi, atau menjalankan hukum, tetapi kita ingin dekat denganNya, ingin menjadi saudaraNya.

Published in: on 21 September 2009 at 4:30 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://putrantotri.wordpress.com/2009/09/21/melihat-karya-allah-dalam-sejarah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: