Mengakui Kesalahan adalah Awal Kebangkitan

Renungan Harian: Rabu, 23 September 2009

Bac. I: Ezra 9:5-9

Injil: Luk. 9:1-6

Seorang lelaki, duduk sendirian, di antara ilalang dan siraman cahaya mentari musim semi. Sungguh seorang diri, jauh dari keramaian saudara sebangsanya, dari riuh rendah kesibukan pembangunan kembali puing-puing kota Yerusalem. Tidak ada yang dibuatnya, selain duduk, merenung, dan berduka. Menjelang petang, baru ia bergerak. Sambil berteriak, lelaki ini mengoyakkan pakaiannya, dan jatuh di atas kedua lututnya. Dengan wajah menghadap tanah, ia tersedu. Dari bibirnya yang kering terucap sebuah pengakuan: kami telah berdosa, ya, kami telah berdoa. Kesalahan kami telah menumpuk, melampaui kepala kami. Saat itu musim semi, tahun 459 sebelum Yesus Kristus. Ezra, begitu lelaki itu dipanggil. Ia baru saja tiba di reruntuhan Yerusalem, setelah diijinkan pulang membawa sekitar 5000 orang Israel, saudara sebangsanya. Raja Persia, Artahsasta tidak saja memberi ijin untuk pulang dan membangun kembali Bait Allah, tetapi juga memberinya barang-barang berharga emas perak untuk mengisi Bait Allah. Menarik benar sikap Ezra, sang Ahli Kitab Taurat. Jarang orang berani mengakui kesalahan dan dosanya sendiri, atau juga dosa bangsanya, sukunya. Biasanya, sehabis ditimpa malapetaka, orang akan menimpakan kesalahan pada orang lain, seperti ungkapan: semut di seberang samudera kelihatan tetapi gajah di pelupuk mata tak Nampak. Maka, kemampuan mengakui kesalahan, dan dosa adalah sebuah anugerah, sebuah awal untuk kehidupan yang baru. Demikianlah, gerakan yang dipimpin Ezra akan menjadi awal bagi Yudaisme, yang berpusat tidak lagi melulu pada kurban tetapi pada Taurat. Demikianlah, Ezra mengawali gerakan pembaruan rohani dalam tubuh bangsanya dengan pengakuan dosa. Sebab, hanya orang yang berani mengakui bahwa dirinya lemah, mampu meletakkan harapannya pada Allah. Sesuai namanya, Ezra, yang berarti Allah menolong. Para murid Yesus pun harus melalui ujian ini: mereka baru siap diutus setelah mengalami dan menyadari betapa sesungguhnya mereka rapuh. Petrus harus menangis setelah menyangkal Yesus tiga kali sebelum akhirnya Ia dipanggil untuk hanya mencintai Yesus dan menjadi gembala bagi sesama kawanan dombaNya. Rasul-rasul yang lain juga, harus mengalami betapa mereka, yang sudah disiapkan selama tiga tahun lebih, toh tetap ketakutan dan melarikan diri, justru sesudah perjamuan Ekaristi yang pertama pada kamis malam. Begitu juga Paulus, Barnabas, dan semua orang kudus, harus menyadari kerapuhan mereka sebelum diutus mewartakan kabar sukacita. Allah Bapa kami, jadikan kami putra-putriMu yang cepat mengakui kelemahan kami secara tulus, dan lambat dalam menghakimi kesalahan sesama kami, mulai hari ini.

Published in: on 22 September 2009 at 3:52 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://putrantotri.wordpress.com/2009/09/22/mengakui-kesalahan-adalah-awal-kebangkitan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: